Yang Memudar
Debur ombak ini masih menyimpan seribu gemuruh, seribu kepungan, atau
seribu hempasan. Tiap-tiap benda-benda lautan ini rupanya menyimpan
ritme bersahutan satu sama yang lain, saling mengisi, saling melengkapi,
menjadi satu ritme. Ritme lautan.
Pada tatapan mata yang memusat, ketika tepi-tepi laut menguat di depan, ia seperti tak berbatas. Kian ia mengecil, juga membesar tanpa batasan. Mata ini seakan memasuki aura kebebasan. Di mana, segala sesuatu menjadi ritme bersatu, padu.
Di sisi langit yang melintang, mata ini menyimak pelangi dengan segala susunan warna-warna cemerlang. Sungguh indah, dan nyaman dipandang. Sungguh-sungguh, hati ini seperti terbasuh dengan sendirinya. Hati yang panas, sontak mendingin. Lebih sejuk.
Konon, pelangi sebenarnya sekadar fenomena belaka dari tempaan bias cahaya di langit. Ini tentu tak ubahnya hati manusia, jika hati sedang gulana, tempaan gelombang gulana menebar dan menerpakan biasnya dalam sorot mata dan perilaku. Orang-orang di sekitarnya pun terkena imbas kegelapannya.
“Apa kau sedang sedih?” tiba-tiba seseorang bertanya.
“Tidak.”
“Tetapi mengapa kau sampai di tempat ini, dan duduk termenung?”
Aku tak menjawab. Yang tampak di mataku hanya satu: pelangi dengan segala fenomena di dalamnya. Yang tersibak di telingaku hanya satu: debur ombak dengan segala susunan gemuruhnya.
“Apa gerangan alasanmu sampai di tempat seperti ini?”
Enggan aku menyahut, namun akhirnya ingin juga memberikan satu ungkapan ini.
“Karena aku sedang berkeinginan...” sahutku dengan sedikit enggan.
“Berkeinginan? Keinginan apakah...”
“Menemukan satu dua potong puisi...”
“Apa kau mendapatkannya?”
Aku menggeleng. Memangnya tempat apa ini?
Inilah tempat yang sering disebut orang-orang dengan kesunyian. Ya, kesunyian. Di mana, tiba-tiba kau sangat ingin sendirian. Sendirian, tanpa diganggu siapapun.
dulunya
puisi ini sangatlah sakral
berisi puja dan puji
sangatlah abadi
dulunya begitu
kini memudar
dan
tak lagi
bundar. [] November 2009
Pada tatapan mata yang memusat, ketika tepi-tepi laut menguat di depan, ia seperti tak berbatas. Kian ia mengecil, juga membesar tanpa batasan. Mata ini seakan memasuki aura kebebasan. Di mana, segala sesuatu menjadi ritme bersatu, padu.
Di sisi langit yang melintang, mata ini menyimak pelangi dengan segala susunan warna-warna cemerlang. Sungguh indah, dan nyaman dipandang. Sungguh-sungguh, hati ini seperti terbasuh dengan sendirinya. Hati yang panas, sontak mendingin. Lebih sejuk.
Konon, pelangi sebenarnya sekadar fenomena belaka dari tempaan bias cahaya di langit. Ini tentu tak ubahnya hati manusia, jika hati sedang gulana, tempaan gelombang gulana menebar dan menerpakan biasnya dalam sorot mata dan perilaku. Orang-orang di sekitarnya pun terkena imbas kegelapannya.
“Apa kau sedang sedih?” tiba-tiba seseorang bertanya.
“Tidak.”
“Tetapi mengapa kau sampai di tempat ini, dan duduk termenung?”
Aku tak menjawab. Yang tampak di mataku hanya satu: pelangi dengan segala fenomena di dalamnya. Yang tersibak di telingaku hanya satu: debur ombak dengan segala susunan gemuruhnya.
“Apa gerangan alasanmu sampai di tempat seperti ini?”
Enggan aku menyahut, namun akhirnya ingin juga memberikan satu ungkapan ini.
“Karena aku sedang berkeinginan...” sahutku dengan sedikit enggan.
“Berkeinginan? Keinginan apakah...”
“Menemukan satu dua potong puisi...”
“Apa kau mendapatkannya?”
Aku menggeleng. Memangnya tempat apa ini?
Inilah tempat yang sering disebut orang-orang dengan kesunyian. Ya, kesunyian. Di mana, tiba-tiba kau sangat ingin sendirian. Sendirian, tanpa diganggu siapapun.
dulunya
puisi ini sangatlah sakral
berisi puja dan puji
sangatlah abadi
dulunya begitu
kini memudar
dan
tak lagi
bundar. [] November 2009

Komentar
Posting Komentar