obsesi asmara
Memang absurd. Tetapi, aku begitu meyakini batas-batasnya segala sesuatu. Pada puncak batas-batas tertinggi keseluruhan kehebatan manusia, dia tentu akan sampai pada sebuah titik tanpa batas yang membuat dirinya makin terbatas. Pada saat itulah, barisan ungkapan terbaca “oh, aduhai, tuhan! Oh, tuhan! Tuhan! Tuhan?”
Aku tak sedang menggerakkan nalar rotasi ego bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa diusahakan dan terwujudkan hanya bila diupayakan. Ya, benar bahwa manusia memiliki potensi nalar. Dan, dengan nalar itu kemudian dia sanggup membereskan banyak hal. Itu memang benar adanya.
Meskipun demikian, ada batas-batas tertentu dan nalar tidak sanggup menembus. Tentu saja, untuk mendapatkanmu aku wajib mengusahakan; untuk menjadi manusia berpengetahuan, tentu saja seseorang perlu banyak rajin belajar, untuk menjadi kaya seseorang perlu bekerja keras secara maksim. Ya, ini benar adanya.
Tetapi tahukah dirimu? Berapa banyak orang berdarah-darah mengusahakan keseluruhan dirinya, namun tidak kaya-kaya juga? Tidak kunjung mengalami kesuksesan? Apa dirimu pernah menelaah hal ini?
Kasus menarik lagi begini. Berapa banyak orang kaya raya tetap gamang dan kurang bahagia mengalami kehidupannya? Sehingga dia merasa sangat perlu poligami? Sehingga dia merasa penting untuk melakukan KKN demi menambah kekayaannya? Meski taruhannya—jika ketahuan—kasur tempat tidurnya bisa dipindah di kolong pengap penjara? Dan, pernahkah kau mendengar kisah putra pengusaha besar yang blusukan di jalanan dengan pakaian lusuh dan tak terurus dan bergabung dengan orang-orang yang dianggap terpinggirkan?
Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi? Bukankah alasan awal mereka menjadi kaya, tentulah akan bahagia hanya apabila aku menjadi kaya. Lalu, kenapa setelah kekayaan diterima, kebahagian belum pula terenggut-tertaut oleh mereka?
Pernahkah dirimu terpikirkan hal itu? Dengan nalar terbaikmu?
Oleh karenanya, aku tidak begitu peduli dengan ketidaknyataan mimpiku mengenaimu. Yang aku peduli, bahwa ada saat-saat tertentu kita mengalah pada situasi yang tidak terendus oleh batas-batas nalar yang selalu diagungkan manusia modern itu. Dan, ada juga saatnya keseluruhan nalar dilontarkan hingga tuntas demi sebuah tujuan.
Dan, dengan demikian, seribu nalar aku kerahkan mencapaimu. Dan, dengan demikian, dengan realitas absolut aku menerimamu. Tidak terlalu penting, apakah nanti Tuhan akan menghadiahkanmu untukku. Kepentinganku satu saja; nalar maksim mencapaimu.
Dan, mengenai memiliki kebersamaan sempurna denganmu?
Ah, ini benar-benar bukan kepentinganku. Tentu, Tuhan yang lebih berkepentingan dengan hal itu. Percayalah, ada bagian-bagian tertentu dari bola kehidupan yang bergerak dan tergerak secara unik dan misterius. Dan, karena itu, mengenaimu maka satu-satunya logika paling masuk akal adalah menelisik logika-Nya. Bukan logika lainnya?
Dan, dengan demikian, sampailah kita pada batas itu. Batas manusia yang paling manusiawi. Nah, selamat malam manis. Salam dari segala keanggunan salam-Nya
