ledakan mimpi
JALAN KEHIDUPAN memang misterius. Kita tidak pernah tahu, masa mendatang semacam apa. Demikian pula halmu. Saat kupandangi gambar-gambar itu, ada perasaan nisbi mengusik. Aku sadar, pertama, betapa kau memang tidak mencintaiku. Kedua, kenyataan penting bahwa bisa saja dirimu sudah dimiliki.
Aku sangat sadar dengan semua itu. Tapi aku selalu percaya pada gesekan takdir. Seberapa perkasa kau menghindar sejauh mungkin, Tuhan selalu menyimpan logika menghadiahkan kebersamaan. Seberapa cerdas aku mengejar-ngejar, jika bukan takdir maka Tuhan pula menyimpan logika kecerdasan khas menampilkan tembok tak tertembus. Sehingga, segala macam teknik dan strategi terbuang menjadi hampa.
Boleh-boleh saja, kau tertawa. Kemudian terbahak keras sekali. Sah-sah saja kau menertawakan keyakinan dan prinsip yang bagimu begitu bodoh dan konyol. Ketahuilah, dengan memampang semangatku tegak di gambarmu, segala pijar semangat spontan menjadi maksim berotot. Apakah kau tahu itu?
Masih ingatkah dirimu tentang mantan-mantanmu? Seberapa besar kau mencintainya? Dan seberapa lihai kau mencegah ketidakabadian hubungan? Dan sudah mengertikah dirimu alasan prinsipil ketidakabadian itu?
Sungguh, hapus airmata itu. Istirahatkan sejenak perasaan itu. Pasang kembali semangat yang sempat tangguh dahulu itu. Hadang kegalauan itu, dan runtuhkan dindingnya. Rata dengan tanah. Lihatlah, di antara reruntuhan kegalauan itu, betapa lapang masa depan menunggu keabadian impian dan cita-citamu. Jangan biarkan dia melenggang lalu jatuh ke bumi. Susunlah kembali dia tegak menjulang melebihi batas-batas angkasa yang biru. Sungguh, sudahi dulu perasaan itu. Tetapkan hati. Kokohkan pikiran tersorong ke sana. Masa depanmu.
Kita beruntung, masih diberi-Nya kesempatan beraktualisasi seluas-luasnya seperti sekarang ini. Dan, tahukah kau? Betapa banyak orang duduk tercenung di sana? Kapan saat-saat memasuki dunia pendidikan dan menjadi manusia terdidik?
Sungguh, ada masa-masa kita mengusahakan sesuatu, dan kemudian di sisi bersamaan kita mesti belajar rela meletakkan hal lainnya. Sungguh, masing-masing ada waktu-waktunya tersendiri. Dan karena sebab alasan itulah, aku masih tetap berdiri untukmu. Sebab, ada saat-saat kita mencintai sesuatu, dan kemudian bertekad memilikinya, juga ada waktu-waktu kita perlu belajar mengurus diri sendiri dulu sebelum mengurus yang lain.
Dengan demikian, berkenankah dirimu
jika suatu saat aku datang dan kemudian menjadi
bagian dari urusanmu yang kuurus?
Selamanya?.
SUNGGUH, aku sedang belajar mengurus diriku sendiri untuk mengurus urusan-urusanmu. Jangan kau bilang aku seorang dan sedang bermimpi. Karena, jika kau buka pintu mimpiku, maka kau akan mengerti kadang mimpi memberikan kekuatannya tersendiri. Sungguh, aku memang sedang bermimpi. Dan kau, bagian dari inti mimpi itu. Aku tak peduli mimpi bakalan jadi nyata ataukah tidak.
Justru karena mimpilah, Enstein menemukan teori bom atomnya. Jepang yang sedang jaya-jayanya menjajah sontak terduduk lemas. Demikian halnya dirimu, kaulah bom atom itu. Dan segera setelah itu, kemalasan yang selalu setia dan sangat lihai menjajahku, seketika tercenung dan tak pernah lagi ingin terbangun. []
