Apakah menjadi beriman itu adalah
wajib?
Ataukah ia adalah pilihan?
tetapi, di zaman akhir ini
Ternyata Tuhan memberikan pilihan
bebas kepada manusia.
Karena setiap pilihan memiliki
silabusnya masing-masing.
Maka
pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi
orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah
dari tanda-tanda kekuasaan Kami, (Yunus:92 ﴿
Baru-baru
ini makin marak saja aksi-aksi untuk menyadarkan sekelompok orang agar segera saja beriman kepada Tuhan seketika itu
juga. Bahkan, kalau perlu dengan menggunakan cara-cara yang memaksakan diri.
Bawa pentungan
untuk dipentungkan misalnya. Pesan yang ingin disampaikan barangkali jika
dibentuk dalam format kalimat, mungkin semacam ini: ayo cepatlah dan sekarang sajalah kalian sadar.
Dan jadilah sekumpulan orang beriman!
Dengan cara-cara
demikian mereka berpikir sekelompok orang akan segera beriman dan sontak
bersujud kepada Tuhannya dengan serta-merta. Seketika. Tetapi memang sungguh. Cara-cara
demikian itu sudah lama ditinggalkan oleh Tuhan.
Ini fakta luar
biasa. Bagi saya, entah menurut Anda. Bahwa sesungguhnya Tuhan sudah
menanggalkan cara-cara menegur hamba-hamba-Nya dengan cara-cara yang biasa Dia
lakukan di era Nabi-Nabi terdahulu: Nabi Nuh dengan banjirnya, Nabi Musa dengan
tongkatnya, atau Nabi Luth dengan gempanya.
Tetapi memang
sungguh. Ini menarik hati dibincangkan. Sebab konon, di zaman para Nabi yang
sudah terdahulu sebelum kenabian pamungkas—Muhammad Saw-,kesadaran hanya akan
tercapai sempurna bila ada kekuatan mukjizat di dalam dakwahnya, batu tiba-tiba
menjadi sekumpulan roti misalnya. Atau, bagaimana seekor kodok lalu mendadak
menjadi kupu-kupu, barulah sekumpulan umat menjadi segolongan orang beriman. Ini
hanya perumpaan, tentu saja.
Tetapi di zaman
Nabi Muhammad ini, yang terjadi justru sebaliknya. Sekumpulan kodok yang
dadakan jadi kupu-kupu belum tentu mampu memberimankan seseorang. Sebaliknya,
alih-alih bisa menjadi beriman, mereka malah datang dengan sekumpulan rasa
penasaran dan berondongan pertanyaan: apa iya ada kodok tahu-tahu menjadi
kupu-kupu? Boleh jadi, mereka akan masuk ke dalam perpustakaan dan bisa
bertahun-tahun di dalam laboratorium.
Demikianlah. Tetapi
itulah uniknya. Umat zaman ini memang aduhai. Mereka beriman bukan oleh sebab
keajaiban. Tetapi oleh sebab akal-pikirnya. Aneh sekali bukan? Tentu sangatlah
aneh. Coba Anda tengok kejadian bencana alama akhir-akhir ini.
Lemparan
sekumpulan batu api yang dimuntahkan oleh Gunung meletus, apakah mampu
menjadikan seseorang beriman? Ia justru mendatangkan sekelompok peneliti.
Mereka justru mendatangi tempat asal batu api dimuntahkan. Padahal kerap
disebutkan di dalam kitab suci, lemparan batu api kerap diberikan kepada
sekelompok hamba-hamba yang enggan beriman.
Mungkin inilah kaidah keimanan di zaman modern sekarang?
Dalam Al Quran
sendiri, betapa Tuhan justru mengajak interaksi terhadap segolongan umat
manusia yang ingkar kepada kebenaran. Bahkan, Tuhan juga justru memberi mereka petunjuk-petunjuk
yang bisa mereka teliti.
Apakah
orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah
satu yang
padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan
keduanya, dan
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang
hidup. Maka
mengapa mereka tidak juga beriman? (QS
Al-Anbiya'
[21]: 30).
Lebih-lebih
jika memerhatikan dalam surat Yunus:
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman
semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka
apakah kamu akan memaksa semua manusia agar menjadi
orang-orang yang beriman? (QS Yunus [10]: 99).
Katakanlah:
"Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari
Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya
(petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka
sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah
seorang penjaga terhadap dirimu". (Yunus: 108)
Ah, sungguh. Betapa dinamisnya!
[]
